Suasana pagi di halaman SMA Negeri 10 Purworejo pada Selasa, 17 Maret 2026, terasa berbeda. Udara masih segar, sinar sang surya lembut menghangatkan menyatu nuansa Ramadan yang menenangkan. Para guru dan karyawan berkumpul dalam kegiatan Kajian Pagi Ramadan, yang menjadi pertemuan terakhir sebelum memasuki masa cuti bersama Idulfitri. Wajah-wajah yang hadir memancarkan semangat sekaligus rasa syukur karena masih diberi kesempatan menutup hari-hari kerja di bulan suci dengan majelis ilmu di ruang guru.
Kajian pagi itu dibuka oleh Pak Salimi dengan salam hangat yang menyatukan hati seluruh peserta. Dengan suara tenang, beliau mengawali majelis dengan doa.
“Alhamdulillah, pagi ini kita masih diberi kesehatan dan keselamatan oleh Allah. Semoga kita semua tetap diberi nikmat Islam dan kesempatan untuk terus memperbaiki amal,” tuturnya.
Tema kajian yang disampaikan pagi itu sederhana, namun sarat makna: setiap orang memiliki amalan unggulan masing-masing. Ada yang kuat dalam ibadah puasa, ada yang tekun membaca Al-Qur’an, ada pula yang gemar bersedekah. Yang terpenting bukanlah besar kecilnya amal, melainkan keikhlasan dan keistiqamahan dalam menjalankannya.
Dalam penjelasannya, Pak Salimi mengisahkan teladan seorang ulama besar, Imam Ali Zainal Abidin, cicit Nabi Muhammad saw. Ulama yang dikenal dengan kedalaman ibadahnya itu memiliki amalan unggulan berupa sedekah. Namun sedekah yang beliau lakukan tidak pernah diumumkan kepada siapa pun.
Setiap malam, dalam diam, beliau berkeliling membawa karung berisi gandum untuk dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Amalan itu dilakukan bertahun-tahun secara sembunyi-sembunyi. Bahkan banyak orang baru mengetahui bahwa beliau adalah pemberi sedekah itu setelah beliau wafat.
Kisah tersebut mengingatkan pada firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Baqarah: 271)
Ayat tersebut menegaskan bahwa sedekah yang dilakukan dengan ikhlas, bahkan secara sembunyi-sembunyi, memiliki nilai yang sangat mulia di sisi Allah.
Pak Salimi menekankan bahwa kunci dari setiap amal adalah keikhlasan. Amal yang sedikit tetapi dilakukan secara tulus dan istiqamah sering kali lebih dicintai Allah daripada amal yang besar namun tidak berkelanjutan.
Salah satu contoh amalan unggulan yang bisa dijaga oleh setiap muslim adalah membaca Al-Qur’an secara rutin setiap hari, walaupun hanya beberapa ayat. Dengan istiqamah, amalan kecil itu akan menjadi cahaya dalam kehidupan.
Selain itu, sedekah juga memiliki kekuatan untuk menumbuhkan kasih sayang di antara manusia. Ketika seseorang gemar berbagi, hatinya akan dipenuhi rasa empati dan kepedulian terhadap sesama.
“Semua amal itu kita niatkan untuk meraih kasih sayang Allah,” pesan Pak Salimi menutup penjelasannya.
Sebagai penegasan ibrah dari kajian tersebut, Pak Hermawanto menyimpulkan tiga pelajaran penting yang dapat dibawa pulang oleh seluruh peserta:
- Rajin beramal, sekecil apa pun kebaikan yang bisa dilakukan.
- Istiqamah, menjaga amal agar terus dilakukan secara konsisten.
- Ikhlas, menjadikan setiap perbuatan semata-mata karena Allah.
Usai kajian, Kepala SMA Negeri 10 Purworejo, Ibu Ruri Purnamawati, menyampaikan beberapa pesan sekaligus apresiasi kepada seluruh guru dan karyawan.
Beliau secara khusus mengapresiasi Pak Alpha dan Pak Mahdi yang telah mengenakan pakaian KORPRI sesuai ketentuan pada setiap tanggal 17. Hal tersebut, menurut beliau, mencerminkan kedisiplinan dalam mematuhi aturan dan cermin integritas dari ASN Berakhlak.
Dalam suasana yang hangat menjelang masa libur, Bu Ruri juga menyampaikan harapan bagi para guru dan karyawan yang akan mudik.
“Semoga Bapak dan Ibu yang akan pulang ke kampung halaman diberikan keselamatan, kebahagiaan, dan kelancaran perjalanan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar sebelum meninggalkan ruang kerja, setiap orang memastikan meja kerja dalam kondisi rapi dan bersih.
“Mohon meja kerja dicek kembali. Jangan sampai ada remah-remah yang tertinggal. Meja yang bersih akan memberikan kesan rapi ketika kita kembali nanti. Sepatu juga ditata dengan baik,” pesannya.
Selain itu, Bu Ruri mengingatkan agar tugas mandiri tetap dikerjakan selama masa libur serta pengisian e-kinerja dilakukan sesuai target yang telah ditentukan.
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga menyampaikan kabar menggembirakan bahwa IDP SMA Negeri 10 Purworejo telah “goal”, sebagaimana disampaikan oleh Ibu Pengawas saat pertemuan di SMAN 4 Purworejo.
Namun demikian, Bu Ruri menekankan pentingnya menjaga komunikasi selama masa cuti.
“Mohon komunikasi tetap dijaga, HP tetap terkondisi aktif. Jika ada informasi penting dari sekolah, kita masih bisa saling terhubung,” pesannya.
Kajian pagi itu pun berakhir dengan suasana penuh kehangatan. Di tengah kesibukan menyelesaikan pekerjaan sebelum libur panjang, majelis ilmu tersebut menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momentum memperbaiki diri.
Setiap orang mungkin memiliki amalan unggulan yang berbeda. Namun selama amal itu dilakukan dengan rajin, istiqamah, dan ikhlas, insyaallah ia akan menjadi bekal berharga untuk meraih kasih sayang Allah.
Disarikan Yuni Raraswati





