Kajian Pagi yang Meneguhkan Hati di SMAN 10 Purworejo
oleh Yuni Raraswati, S.Pd.
Pagi Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Udara terasa lebih sejuk, hati pun terasa lebih tenang. Senin pagi, 9 Maret 2026, suasana penuh keberkahan terasa di Ruang Pengawas Penilaian Sumatif Akhir Jenjang (PSAJ) SMAN 10 Purworejo. Sebelum melaksanakan tugas mengawasi PSAJ mata pelajaran Fisika, para guru memulai aktivitas dengan mengikuti kajian pagi Ramadan.
Kajian tersebut disampaikan oleh Bapak Wagimun. Sebelum memulai materi, beliau terlebih dahulu mengajak seluruh hadirin untuk berdoa bersama. Dalam doa yang dipanjatkan dengan penuh khusyuk, beliau memohon kepada Allah agar Kepala SMAN 10 Purworejo, Ibu Ruri Purnamawati, beserta seluruh guru dan karyawan SMAN 10 Purworejo senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, serta keberkahan dalam menjalankan tugas. Beliau juga mendoakan agar seluruh keluarga besar sekolah dapat menyelesaikan sepuluh hari terakhir Ramadan dengan penuh rahmat dan ampunan dari Allah Swt.
Kegiatan sederhana namun sarat makna ini menjadi pengingat bahwa di tengah kesibukan menjalankan tugas pendidikan, para pendidik tetap berusaha menguatkan iman dan menata hati melalui tadabbur Al-Qur’an.
Kajian pagi itu mengangkat tema tentang kecintaan Nabi Muhammad saw. kepada umatnya, yang disampaikan melalui penjelasan beberapa ayat Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Qadr, Al-Baqarah ayat 286, dan At-Taubah ayat 128.
Pemateri mengawali kajian dengan mengingatkan tentang kemuliaan Lailatul Qadar, malam yang penuh keberkahan sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Qadr.
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.”
(QS. Al-Qadr: 1)
Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa pada sepuluh malam terakhir Ramadan, para malaikat turun ke bumi dipimpin oleh Malaikat Jibril, membawa keberkahan dan kedamaian bagi orang-orang yang beribadah dengan penuh keimanan. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak doa, istighfar, dan amal kebaikan pada malam-malam tersebut.
Pemateri juga menuturkan kisah tentang munajat Nabi Muhammad saw. kepada Allah yang menunjukkan begitu besar cinta beliau kepada umatnya. Dalam doa-doanya, Nabi memohonkan ampun bagi umatnya yang melakukan kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Dengan penuh kasih sayang, Rasulullah memohon kepada Allah agar umatnya tetap diberi ampunan dan keberkahan.
Doa itu menggambarkan betapa besar kasih sayang Nabi kepada umatnya. Bahkan Allah memberikan jawaban penuh rahmat, bahwa umat Nabi Muhammad yang memohon ampun dan kembali kepada-Nya akan mendapatkan ampunan.
Kajian juga mengingatkan jamaah pada firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 286:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Ayat ini menjadi penguat bahwa Allah Maha Mengetahui kemampuan setiap hamba-Nya. Karena itu, manusia selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan memohon ampun kepada Allah.
Selain itu, disampaikan pula kandungan Surah At-Taubah ayat 128 yang menggambarkan betapa lembut dan penuh kasihnya Rasulullah kepada umatnya.
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ
“Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri; berat terasa olehnya penderitaanmu…”
(QS. At-Taubah: 128)
Ayat ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad sangat memikirkan keselamatan umatnya. Bahkan menjelang akhir hayatnya pun, Rasulullah tetap memikirkan nasib umatnya. Dalam sebuah kisah yang disampaikan dalam kajian, disebutkan bahwa ketika Malaikat Maut datang, Rasulullah masih menanyakan kepada Malaikat Jibril tentang keadaan umatnya setelah beliau wafat. Kekhawatiran itu dijawab dengan kabar yang menenangkan: umat yang beriman, bertakwa, dan senantiasa berdoa kepada Allah akan mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya.
Kajian pagi Ramadan di Ruang Pengawas PSAJ SMAN 10 Purworejo tersebut menjadi pengingat bagi para guru bahwa tugas mendidik bukan sekadar menyampaikan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebaikan dan keteladanan.
Dengan hati yang lebih teduh dan semangat yang diperbarui, para guru kemudian melanjutkan tugas mereka mengawasi ujian hari itu. Kajian singkat di pagi Ramadan tersebut menjadi bekal spiritual yang menguatkan langkah—bahwa di tengah kesibukan dunia pendidikan, selalu ada ruang untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meneladani kasih sayang Rasulullah kepada umatnya.





