Pagi Ramadan selalu menghadirkan ketenangan yang berbeda. Udara yang masih sejuk menyelimuti lingkungan SMA Negeri 10 Purworejo pada Selasa, 10 Maret 2026. Sebelum menjalankan tugas pengawasan Penilaian Sumatif Akhir Jenjang (PSAJ), para Bapak dan Ibu Guru serta karyawan terlebih dahulu berkumpul untuk mengikuti Kajian Pagi Ramadan, sebuah kegiatan yang menjadi ruang meneguhkan iman sekaligus menenangkan hati di tengah kesibukan tugas pendidikan.
Kegiatan yang berlangsung dengan khidmat ini dipandu oleh Bapak Hermawanto sebagai pembawa acara. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa sejak awal. Hadir pula mendampingi kegiatan tersebut Kepala SMA Negeri 10 Purworejo, Ibu Ruri Purnamawati, yang bersama para guru dan karyawan mengikuti kajian dengan penuh perhatian.
Materi kajian disampaikan oleh Bapak Amat Salimi. Dalam pemaparannya, beliau mengajak para peserta untuk merenungkan keistimewaan Al-Qur’an yang tidak hanya menjadi pedoman hidup, tetapi juga memuat tanda-tanda kebenaran yang semakin terbukti melalui perkembangan ilmu pengetahuan. Banyak ilmuwan yang awalnya meneliti Al-Qur’an dari sudut pandang ilmiah, namun justru semakin takjub dan akhirnya mengakui kebenaran wahyu Allah.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah kisah Firaun, penguasa Mesir yang menentang dakwah Nabi Musa a.s. Dengan kesombongannya, Firaun mengejar Nabi Musa dan kaumnya hingga ke tepi laut. Atas pertolongan Allah, laut terbelah sehingga Nabi Musa dan para pengikutnya dapat menyeberang dengan selamat. Namun ketika Firaun dan pasukannya mencoba mengejar, laut kembali menutup dan menenggelamkan mereka.
Peristiwa tersebut diabadikan dalam firman Allah:
فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ
“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu agar engkau menjadi pelajaran bagi orang-orang setelahmu. Dan sungguh, kebanyakan manusia lengah terhadap tanda-tanda kekuasaan Kami.”
(QS. Yunus: 92)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa jasad Firaun akan tetap ada sebagai pelajaran bagi manusia di masa setelahnya. Berabad-abad kemudian, para ilmuwan meneliti mumi Firaun yang ditemukan di Mesir. Penelitian menunjukkan bahwa jasad tersebut mengandung kadar garam, yang mengindikasikan bahwa ia pernah tenggelam di laut. Penelitian ini dilakukan oleh ilmuwan Prancis Dr. Maurice Bucaille, yang kemudian sangat kagum pada kesesuaian antara temuan ilmiah dan isi Al-Qur’an.
Selain itu, kajian juga menyinggung tentang proses penciptaan manusia yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an jauh sebelum ilmu embriologi modern berkembang. Allah berfirman:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (yang berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani dalam tempat yang kokoh (rahim). Lalu air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat (‘alaqah), kemudian menjadi segumpal daging (mudghah), lalu Kami jadikan tulang belulang dan Kami bungkus tulang itu dengan daging…”
(QS. Al-Mu’minun: 12–14)
Tahapan perkembangan manusia ini kemudian diteliti oleh Prof. Keith L. Moore, seorang ahli embriologi dunia. Ia menemukan bahwa penjelasan yang terdapat dalam Al-Qur’an sangat selaras dengan temuan ilmu kedokteran modern mengenai perkembangan embrio manusia.
Paparan tersebut semakin menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan hanya kitab suci yang dibaca dalam ibadah, tetapi juga sumber ilmu pengetahuan dan petunjuk kehidupan yang penuh hikmah.
Di akhir kajian, Bapak Amat Salimi mengajak seluruh peserta untuk semakin mencintai Al-Qur’an : membacanya, mempelajarinya, memahami maknanya, serta mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang terkandung di dalamnya.
Kajian pagi itu menjadi penguat spiritual bagi para guru dan karyawan sebelum menjalankan amanah mengawasi PSAJ. Dalam suasana Ramadan yang penuh berkah, kegiatan tersebut mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan dan keimanan sejatinya saling menguatkan, menuntun manusia semakin dekat kepada Sang Pencipta.
Semoga semangat untuk mempelajari Al-Qur’an terus tumbuh di lingkungan SMA Negeri 10 Purworejo, sehingga ilmu yang dimiliki tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.
Disarikan Yuni Raraswati





