Senin, 16 Maret 2026
oleh Yuni Raraswati, S.Pd.
Suasana pagi di lingkungan SMAN 10 Purworejo pada Senin, 16 Maret 2026 terasa lebih khusyuk. Para guru dan karyawan berkumpul mengikuti Kajian Pagi Ramadan, sebuah kegiatan yang rutin dilaksanakan sebelum memulai aktivitas sekolah. Di tengah kesibukan tugas pendidikan, momen ini menjadi ruang untuk menenangkan hati sekaligus memperkuat spiritualitas di bulan suci.
Pada kesempatan tersebut, tausiah disampaikan oleh *Bapak Wagimun. Dalam pemaparannya, beliau mengajak seluruh jamaah untuk memanfaatkan *sepuluh malam terakhir Ramadan dengan memperbanyak doa dan memohon ampun kepada Allah, sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ.
Menurut beliau, Rasulullah memberikan teladan yang sangat kuat ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan. Nabi meningkatkan kesungguhan dalam beribadah, memperbanyak doa, dan menghidupkan malam-malam dengan berbagai amalan.
Salah satu doa yang secara khusus diajarkan Nabi Muhammad ﷺ untuk dibaca pada sepuluh malam terakhir Ramadan adalah:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Latin:
Allāhumma innaka ‘afuwwun tuḥibbul ‘afwa fa‘fu ‘annī.
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
Bapak Wagimun menjelaskan bahwa doa ini mengandung makna yang sangat dalam. Selama setahun perjalanan hidup manusia, tentu banyak kesalahan yang telah dilakukan, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Oleh karena itu, pada sepuluh malam terakhir Ramadan umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak memohon ampun kepada Allah.
Beliau juga mengingatkan bahwa berbagai musibah yang terjadi dalam kehidupan bisa menjadi pengingat bagi manusia agar kembali melakukan introspeksi diri. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Asy-Syura ayat 30:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
Latin:
Wa mā aṣābakum min muṣībatin fabimā kasabat aydīkum wa ya‘fū ‘an katsīr.
Artinya:
“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak dari kesalahanmu.”
Untuk memperjelas makna muhasabah tersebut, Bapak Wagimun menyampaikan kisah sederhana tentang seorang petani yang tetap berusaha menjalankan salat tarawih di masjid. Setelah salat Subuh, ia kembali bekerja mencangkul sawahnya. Namun karena panas yang sangat terik, ia akhirnya membatalkan puasanya.
Ketika siang hari anaknya yang bersekolah di SMK pulang ke rumah, ia melihat istri dan anaknya tetap menjalankan puasa. Hal itu membuatnya merasa bersalah karena tidak dapat memberi teladan yang baik bagi keluarganya.
Saat keluarganya tertidur karena kelelahan, ia mencoba makan secara diam-diam. Namun ketika makan, ia justru tersedak. Peristiwa sederhana itu membuatnya semakin menyadari kekhilafan dirinya.
Melalui kisah tersebut, Bapak Wagimun mengajak jamaah untuk mengambil pelajaran bahwa manusia harus terus berusaha menjadi pribadi yang lebih bertakwa. Rasulullah ﷺ sendiri senantiasa memohon kepada Allah agar umatnya diampuni dari berbagai kesalahan dan dosa. Karena itu, sepuluh malam terakhir Ramadan menjadi waktu yang sangat berharga untuk memperkuat doa dan memohon ampunan kepada Allah.
Di akhir kegiatan, Bapak Hermanwanto memimpin doa penutup majelis dengan membaca doa:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Latin:
Subḥānaka Allāhumma wa biḥamdika, asyhadu allā ilāha illā anta, astaghfiruka wa atūbu ilaik.
Artinya:
“Maha Suci Engkau ya Allah dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu.”
Kajian pagi Ramadan tersebut menjadi pengingat bagi seluruh warga sekolah bahwa sepuluh malam terakhir Ramadan adalah kesempatan yang sangat berharga untuk menjemput ampunan Allah. Dengan memperbanyak doa dan memperkuat ibadah, diharapkan setiap langkah yang dijalani semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menjadikan kita pribadi yang lebih bertakwa. ✨





