oleh Yuni Raraswati, S.Pd.
https://youtu.be/2kKodPjbLjo?si=NMYsVP62-vLDIwPg
Suasana pagi ini, Selasa, 3 Maret 2026 terasa berbeda. Di sela-sela kesibukan mempersiapkan pengawasan PSAJ, sebanyak kurang lebih 40 guru dan karyawan didampingi Kepala SMAN 10 Purworejo, Ibu Ruri Purnamawati, berkumpul dalam keheningan yang khusyuk. Wajah-wajah penuh tanggung jawab itu menyiratkan kesiapan, bukan hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga menata hati sebelum mengawali amanah besar hari itu.
Tausyiah disampaikan oleh Bapak Amat Salimi dengan suara tenang, namun sarat makna. Beliau mengajak hadirin meneladani perjuangan panjang Nabi Nuh yang berdakwah kurang lebih 950 tahun. Sebuah rentang waktu yang tidak sebentar, bahkan melampaui usia manusia pada umumnya. Selama itu, beliau tanpa lelah mengajak kaumnya untuk beriman kepada Allah SWT.
“Allah tidak menilai hasilnya semata,” tutur beliau menguatkan. Meski pengikut Nabi Nuh tidak banyak, perjuangan itu tetap bernilai agung di sisi Allah. Yang Allah lihat adalah ketulusan, kesabaran, dan konsistensi dalam menjalankan perintah-Nya.
Dari kisah para nabi tersebut, para guru dan karyawan diajak menarik pelajaran mendalam. Dalam setiap tugas mendidik dan mengajar, termasuk mengawasi PSAJ, yang utama adalah niat. Semua dilaksanakan semata-mata karena Allah SWT. Hasil bukan wilayah kita untuk memaksakan. Kita berikhtiar sebaik mungkin, namun keputusan akhir tetap berada dalam ketetapan-Nya.
Bapak Amat Salimi menekankan pentingnya membangun mindset bahwa setiap pekerjaan adalah bagian dari ibadah. Jika diniatkan untuk memenuhi perintah Allah dan mengharap pahala-Nya, maka beban akan terasa lebih ringan. Tekanan berubah menjadi ladang amal. Keluh kesah diganti dengan keikhlasan.
“Jangan biasakan mengeluh,” pesan beliau lembut, “gantikan dengan ikhlas.”
Suasana ruangan terasa hangat oleh kesadaran bersama. Bahwa tugas hari itu bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk pengabdian. Dengan kesabaran dan niat yang lurus, insya Allah setiap langkah akan bernilai pahala.
Pagi itu, sebelum pengawasan dimulai, bukan hanya administrasi yang dipersiapkan. Hati pun telah ditata. Dan dari hati yang ikhlas, lahirlah kekuatan untuk menjalankan amanah dengan tenang, tanpa tekanan, karena semua telah diserahkan kepada Allah SWT.






